kampungewongbanten

Kecantikan yang Membawa Petaka

Rose Anggraeni, gadis berusia 18 tahun yang ketika itu hendak bermalam di kediaman salah seorang sahabatnya, Nita, pada hari Sabtu tanggal 1 Mei 2001 sekitar pukul 18.00 wib. Handphone, alat mandi, alat make up dan beberapa potong bajunya berserakan diatas sebuah tempat tidur sederhana beralas kain bunga-bunga berwarna-warni mulai ia bereskan satu persatu dan dimasukkan kedalam tas berwarna coklat yang sudah agak terlihat lusuh dan warnanya memudar. Setelah itu, Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mulai berbenah dan bersolek untuk merapikan dandanannya untuk mempercantik dirinya didepan sebuah cermin berukuran sedang dan masih terlihat baru yang tergantung di bagian tengah dinding kamarnya. Setelah barpamitan dengan ayah dan ibunya, Ia langsung bergegas menyusuri jalan komplek rumahnya menuju tujuannya.

Selangkah demi selangkah ia mulai berjalan menuju ke kediaman teman baiknya sambil bersenda gurau dengan kekasihnya, Pito, melalui handphone yang menempel ditelinganya. Dalam perjalanannya, tiba-tiba penglihatannya tertuju pada sosok dua orang anak perempuan seumurannya yang terus memperhatikannya.

“Ada apa kamu lihat-lihat?” tanya salah seorang dari mereka kepada Rose yang mulai bingung dengan tingkah kedua perempuan tersebut, dan bertanya balik “Maaf?” katanya. Setelah itu, kedua perempuan itu mulai mengeluarkan kata-kata makian yang tidak pantas dikatakan kepada Rose sambil berteriak-teriak seakan-akan Rose adalah seorang maling.

Suara Pito dari seberang telepon mulai panik, dan menyuruh Rose untuk menjauh dan menjaga jarak dengan mereka, tetapi ketika Rose baru melangkahkan kakinya untuk menjauh, tiba-tiba terlihat sembilan orang laki-laki yang juga terlihat seumuran dengan Rose muncul dari balik lapangan sepak bola yang penuh dengan lumpur dan mulai mengelilingi Rose bagaikan  sekuntum bunga yang dikelilingi oleh lebah penghisap madu, sehingga ia tidak bisa pergi dari tempat itu.

Rose yang masih berdiri di atas kedua kakinya diantara mereka berusaha menghindar karena tidak ingin bermasalah dengan mereka, tetapi salah seorang perempuan berambut ikal agak kemerah-merahan mengayunkan kakinya kearah tas coklat lusuh yang warnanya mulai memudar yang masih dipegang oleh Rose hingga salah satu tali yang menghubungkannya terputus dan terjatuh ketanah yang penuh dengan lumpur. Seketika mimik wajah Rose berubah menjadi shock dan Ia berusaha untuk membalikkan badannya, tetapi gerombolan orang itu berlari mengejarnya. Mereka mendorong tubuh Rose hingga ia terjatuh disekitar lumpur-lumpur yang masih basah, setelah itu mereka mulai mengayunkan kaki mereka kearah tubuh Rose dan meloncat-loncat diatas kepalanya sambil meneriakkan sesuatu yang hanya terdengar samar-samar oleh Rose. Salah satu perempuan berbadan tinggi dan besar menarik-narik rambut Rose yang mulai terasa sakit, sambil mengatakan “Rasakan. Sekarang kamu tidak akan terlihat cantik lagi!” Batin Rose benar-benar terguncang dan merasa takut, ia hanya bisa menahan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Maaf, maafkan aku”, itulah kata yang keluar dari mulut Rose agar mereka menghentikan penganiayaan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak memperdulikan dan terus menganiaya dirinya.

Penganiayaan itu terjadi sekitar lima menit, setelah lima menit berlalu, para lelaki mulai meninggalkan tempat itu, yang tersisa hanya para perempuannya saja. Salah seorang dari perempuan itu sempat menyuruh Rose untuk menatap wajahnya, tetapi dalam takutnya Rose tetap memalingkan wajahnya dan enggan menengok kearahnya. Akhirnya mereka melangkahkan kaki pergi menjauhi Rose.

Satu demi satu helai rambut berserakan disekelilingnya, tangan yang rapuh memaksakan untuk menyentuh kepala dan mendapati banyak rambut miliknya yang rontok. Jiwa gadis itu semakin panik ketika mendapati bahwa darah mulai bercucuran dari kedua matanya dan telinganya. Selang beberapa menit kemudian Pito (yang dengan tergesa-gesa menyusul) datang dan seketika itu juga memeluknya dengan sangat erat. “pada waktu itu saya yang mendengar percakapan Rose dengan perempuan itu lewat telepon hanya bisa manyuruh Rose untuk menjauh dari mereka, tetapi perasaan khawatir terus menerus membayangi, maka dari itu saya segera menyusul tetapi semua sudah terlambat karena Rose sudah terkapar di tanah penuh lumpur dengan tubuh yang berlumuran darah dan terlihat sangat mengerikan”.

Sesampainya dirumah Pito yang bisa dikatakan bahwa itu suatu rumah yang sederhana, Rose berbaring dalam keadaan shock, setengah menangis dan tidak mampu untuk berkata-kata. Mereka tidak hanya menyiksa Rose, tetapi mereka juga telah merampas seluruh isi yang terdapat didalam tasnya. Pito yang saat itu masih terlihat panik langsung mengangkat gagang telepon yang sudah terlihat tua dan mulai menekan tombol-tombol yang nomornya tidak asing lagi bagi Rose, ya, Pito dengan segera menelpon kedua orangtua Rose untuk memberi kabar tentang apa yang sudah terjadi pada putri mereka.

Setelah Ibu Yuli, Ibunda Rose, datang dan melihat sendiri denga kedua matanya keadaan putrinya saat itu, ia langsung spontan meneteskan air matanya. “Jujur pada saat itu, saya tidak tahu dan bingung ingin berbuat apa? Semuanya sudah terjadi, sudah seperti ini adanya, saya turut merasakan betapa sakitnya anak saya ketika diperlakukan seperti itu. Mungkin saya gagal melindunginya”ucapnya dengan sedikit terbata-bata. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya waktu menceritakan hal itu pada saya.

Keadaan Rose memang sangat mengerikan pada saat itu. Badan yang penuh darah, rambut yang rontok, celana yang penuh lumpur dan baju atasan berwarna hitam miliknya yang robek dan terdapat bercak darahnya.

Kedatangan sebuah mobil ambulans yang menjemput Rose untuk dibawa ke Rumah Sakit, membuatnya sedikit merasa aman dan tenang. Pada saat itu juga, kedua orangtua Rose segera melaporkan kasus tersebut kepada polisi setempat.

“Tubuhku rasanya sakit sekali, terluka dan penuh memar, tetapi untungnya tidak ada yang retak atau patah” ujar Rose sambil mengucap syukur.

Malam yang sudah mulai larut, membawa Rose untuk kembali pulang kerumah yang letaknya diujung jalan raya. Ibu Yuli langsung melumuri kondisioner keseluruh bagian rambut dan kepala putri tercintanya. Setiap kali rambut Rose dirapikan oleh sebuah sisir tumpul berwarna hijau, semakin banyak rambutnya yang rontok, “Aku sempat bingung, kenapa selama menyisir rambutku, Ibu tidak bisa menghentikan tangisannya? Ternyata dibelakang kepalaku, hampir tidak ada sama sekali rambut yang tersisa!” ucap Rose yang mulai perlahan-lahan bercerita sambil menahan tangisnya.

Malam berikutnya tiba, dimana kepala Rose terasa sangat menyakitkan, sampai-sampai ia tidak bisa tidur dengan bantalnya. Bagian belakang tubuh Rose penuh memar dan sekujur tubuhnya terasa nyeri. Malam itu Rose tertidur dengan rasa sakit yang terus menyerangnya. Beberapa luka yang ada di mata dan telinganya mulai terasa sakit, dan di kepalanya terdapat benjolan. Di hari-hari berikutnya luka-luka yang dirasakan oleh Rose mulai bertambah dan terasa, bagian rahang Rose membesar, sehingga Ia tidak dapat membuka mulutnya untuk mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi untuk memakan makanannya.

Siang yang terik, terus melangkahkan kakinya dengan pasti menuju ke sebuah kantor polisi untuk memberikan beberapa informasi yang mungkin bisa dicerna oleh polisi itu. Terbukti  beberapa hari kemudian, polisi berhasil menemukan orang-orang biadab itu, ya, gerombolan anak-anak yang sudah membuat rose menderita selama berhari-hari.

Daniel, teman baik Rose, sempat mengatakan bahwa Ia mendengar kalau salah seorang perempuan dari kelompok itu sedang memamerkan kesuksesannya menyerang Rose, “pada waktu itu, aku tidak sengaja mendengarnya, ketika aku sedang melewati tempat dimana mereka berkumpul” katannya.

Pak petrus, ayah dari Rose juga menemukan sekelompok perempuan itu, perempuan yang mungkin iri dengan wajah putrinya disekitar tempat kejadian dimana Rose dianiaya oleh mereka, “saya melihat mereka bercengkrama, seakan-akan mereka sama sekali tidak membuat kesalahan”.

Suasana hiruk-pikuk yang terdapat di salah satu ruang persidangan membuat Rose merasa takut dan panik, saat hari dimana Ia harus menceritakan kronologis penganiayaan yang Ia rasakan. Tepat sebelum hari natal tahun 2001, dimana semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari natal, Rose mendapat kabar gembira, sekelompok geng itu terbukti bersalah atas kasus penganiayaan dan pencurian, sehingga mereka harus merasakan tinggal di balik jeruji besi yang pengap selama 4 bulan, dan kedua dari laki-lakinya diharuskan mengikuti kerja sosial. Tetapi karena polisi kekurangan bukti dari kejadian itu, beberapa lelaki lainnya dinyatakan tidak bersalah.

Selang satu bulan yang Rose sudah lewati setelah kejadian mengerikan itu berlalu, nilai-nilai sekolahnya mulai menurun drastis, “sejak saat itu aku bertekad, bahwa mereka tidak boleh merusak masa depanku”. Hari demi hari yang Rose lewati selalu diwarnai dengan semangat untuk mengembalikan dirinya menjadi seperti sebelumnya, seperti saat Ia menjadi kebanggan kelasnya. Perlahan-lahan Rose mulai berhasil menaikkan nilainya, itu berkat kerja kerasnya yang dilakukan selama ini.

Teman-teman dan keluarga Rose terus membantu dan member dukungan yang tak henti-henti untuk memulihkan kepercayaan dirinya. “pesanku untuk korban penyerangan, jangan sampai orang yang menyerangmu merusak hidupmu. Termasuk merusak prestasi dan kepercayaan dirimu. Kadang memang susah untuk dilupakan, tetapi jangan mudah putus asa dan teruslah berusaha.” Kata Rose dengan lantang berusaha meyakinkan bahwa kata-kata yang Ia ucapkan mampu membangkitkan semangat-semangat orang yang bernasib sama dengan dirinya.(ririn)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.